
Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Mayak Tonatan Ponorogo terletak + 1,5 km sebelah timur Kota Ponorogo tapatnya di Kelurahan Tonatan Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Mayak Tonatan Ponorogo berdiri pada tanggal 1 Januari 1947 dibawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Ponorogo, dengan Piagam Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Ponorogo yang terbaru No. 002/SK-4/LPM/I/2007 tanggal 01 Januari 2007 dengan Nomor Kode Madrasah : 103.1947.4.002
MI Ma’arif Mayak Tonatan Ponorogo didirikan diatas tanah waqaf seluas 3.570,475 m2 dari almarhum Bapak Qomarudin, Bapak Toyib, Bapak H. Sajjidi, Bapak H. Sahid, Bapak Imam Supangkat dan Bapak Dasri Mayak Tonatan Ponorogo serta masyarakat lingkungan MI Ma’arif Mayak. Pada awal perkembangannya kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan pada sore hari. Karena pengaruh situasi negara pada saat itu terutama peristiwa PKI Madiun dan agresi Belanda, sekolah ditutup. Selanjutnya baru diaktifkan kembali pada tahun 1950. Kemudian pada tahun 1960 sekolah dimasukkan pada pagi hari, dengan nama Madrasah Wajib Belajar (MWB). Pada tahun 1965 diganti nama dengan Madrasah Ibtidaiyah NU (MINU). Pada tahun 1971 diganti nama lagi sampai sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Mayak.
Menjawab tantangan dan tuntutan zaman yang semakin komplek dan terdorong untuk berperan aktif melaksanakan melaksanakan program pemerintah terutama dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui program wajib belajar 9 tahun maka Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Mayak bekerja keras dalam langkahnya dan senantiasa dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu menuju suatu lembaga pendidikan yang profesional. Hal yang selalu dilakukan adalah menumbuhkan gairah belajar siswa, mempermudah dalam bertanya langsung kepada guru tentang pelajaran yang belum dimengerti, memberikan motivasi dalam hal kewajiban bagi seorang muslim, mempererat hubungan lahir dan batin antara guru dan murid dengan bertatap muka secara langsung dalam suasana formal maupun non formal. Disamping itu ada program tambahan bagi mata pelajaran yang dianggap sulit khususnya bagi siswa siswi kelas IV, V dan VI. Hal itu dimaksudkan untuk memperdalam materi dan penyeragaman pemahaman dan penyampaian. Pengontrolan kelas-kelas oleh wali kelas, guru piket dan kepala madrasah adalah langkah yang cukup efektif dalam menggiatkan disiplin tepat waktu dan sebagai langkah preventive (pencegahan) dari hal-hal negatif yang sering terjadi di suatu lembaga pendidikan. Sementara peran wali kelas dalam mengawasi dan membimbing para siswa cukup banyak membantu dalam meningkatkan prestasi yang maksimal, menumbuhkan minat belajar, dan membangun jiwa kompetitif di kalangan para siswa.
Sebagai upaya peningkatan minat belajar siswa diberikan tambahan materi pada waktu sore dan malam hari. Ternyata sambutan masyarakat cukup baik, terbukti dengan banyaknya orang tua yang menyekolahkan putra-putrinya di MI Ma’arif Mayak Tonatan Ponorogo. Disamping itu sejak tahun 1996 telah dibuka Taman Pendidikan Al Qur’an dan Madrasah Diniyah hingga sekarang.
Tantangan yang dihadapi adalah kurangnya sarana dan prasarana penunjang pendidikan. Pembangunan fisik sarana dan prasarana belajar mengajar secara bertahap dilaksanakan. Meskipun tetap disadari hasil yang dicapai masih jauh dari sempurna.